Saturday, December 30, 2006

Modus Penipuan Mengatasnamakan BCA

Hari ini saya mendapatkan surat elektronik yang seolah-olah dari BCA. Si Pengirim meminta kita untuk mengupdate database kita dengan cara mengklik link yang dilampirkan. Awalnya, saya sedikit percaya tentang email itu, namun setelah saya sorot link tersebut, ternyata tujuannya bukan ke website BCA. Perlu diwaspadai. Berikut e-mail tersebut.



Update Your Account
From:
"KLIK BCA" Date:
Fri, 29 Dec 2006 23:57:05 -0600

Kepada Yth. Nasabah Pengguna Fasilitas KlikBCA

Dengan hormat,
Sehubungan dengan adanya update database, kami mengharapkan para pengguna Internet Banking BCA untuk melakukan update informasi login. Klik link dibawah ini untuk melakukan update:
https://ibank.klikbca.com/update.jsp?user=09daeR4ir402kdfe&da093041ew2481xac

Demikian untuk dimaklumi, terima kasih.

Hormat kami,
PT. Bank Central Asia ,Tbk.

Setelah saya sorot link tersebut, ternyata mengarah ke
http://www.cartridgeworld-indonesia.com/update.jsp

Harap berhati-hati!!!

Monday, December 25, 2006

Perampokan di Taksi, Teror yang Berkepanjangan...

Suparmini (36), karyawati, warga Matraman, Jakarta Timur, yang menjadi korban perampokan di taksi hingga kini masih shock karena kejadian Kamis lalu. Tak disangka, malam itu taksi yang merupakan jenis moda transportasi darat paling aman itu berubah menjadi sumber teror dalam hidupnya.

Meski sudah melaporkan kejadian itu ke Kepolisian Daerah Metro Jaya dan sudah tiga malam tidur di rumahnya yang aman, Suparmini masih takut.

Walaupun sudah sampai di rumahnya sendiri, di kelurahannya sendiri, dan pastinya punya aparat terdekat, seperti Ketua RT dan Ketua RW, ia masih merasa dikejar-kejar. Bahkan ia takut sewaktu-waktu perampok menyatroni rumahnya.

"Saya sebenarnya tak pernah sembarangan menyetop taksi, selalu saya pastikan taksi yang saya gunakan taksi kepercayaan saya," katanya. Namun, malam itu, pukul 19.30, di depan Mal Ambasador Kuningan, turun hujan lebat. Asap knalpot menambah pemandangan berkabut, ditambah kacamata Suparmini juga berembun.

Taksi warna biru yang mirip taksi kepercayaannya itu berinisial Sep. Perasaan tak enaknya ternyata menjadi kenyataan.

Ketika taksi meluncur ke Hotel Ritz Carlton melewati Hotel JW Marriott, sopir taksi tiba-tiba berhenti dan memasukkan dua laki-laki ke taksi. Kedua orang tersebut langsung mengintimidasi dirinya.

Saat itu, ia hanya sempat berpikir bagaimana agar selamat dan tidak mati konyol. Maka, telepon seluler T610, cincin dua gram, dan dua kartu ATM beserta nomor PIN diberikan kepada perampok. "Kalau nomor PIN ini salah, saya bisa membunuh Ibu," kata korban menirukan pelaku.

Perampok kemudian berhenti di Tanah Abang dan menyerahkan hasil rampokan kepada kawannya yang sudah menunggu. Malam itu tabungan di BCA dan Mandiri senilai Rp 6,7 juta dikuras perampok. Korban sempat diajak berputar-putar kota selama dua jam hingga akhirnya diturunkan di Kampung Melayu.

Kesembilan kali

Peristiwa perampokan di taksi tersebut adalah kasus kesembilan kalinya selama tahun 2006 yang menimpa perempuan saat menggunakan jasa taksi. Kasus itu juga merupakan pengulangan peristiwa yang menimpa seorang karyawati yang bekerja di Jalan Jenderal Sudirman, kerugian mencapai Rp 47 juta. Skenarionya sama, sopir menjalankan taksinya dan tak lama kemudian masuk dua laki-laki, merampas semua harta korban berikut kartu ATM dan nomor PIN.

Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, mengatakan kasus perampokan penumpang taksi terus berulang karena dua hal. Pertama, karena polisi kurang serius menangani setiap kasus menyangkut armada taksi besar. Kedua, karena iklim kompetisi dalam bisnis pertaksian yang sudah tidak sehat.

"Kepolisian selalu lambat dalam mengungkap pelaku perampokan penumpang taksi. Aparat keamanan gagal memberi rasa aman kepada warga kota," kata Tulus. Konsumen menganggap moda transportasi darat paling aman adalah taksi, tapi tetap saja ada kejahatan di taksi dan cenderung tak ada upaya bersama dari semua pihak untuk bersama-sama memeranginya.

"Saya pernah mendapat info mengapa setiap ada kasus perampokan taksi selalu tak ditangani serius. Ada dugaan kongkalikong perusahaan taksi yang digunakan untuk perampokan sehingga banyak kasus perampokan yang sepertinya dipetieskan," kata Tulus.

Ia juga menyebut kompetisi antarperusahaan taksi kini sudah tidak kondusif lagi. Jumlah armada taksi saat ini mencapai 30.000-35.000 unit, persaingan ketat dengan rasio supply dan demand tak seimbang membuat banyak taksi menganggur.

"Sejak 1999 sebenarnya sudah oversupply. Sekarang perizinan sudah ditutup, tapi pengusaha taksi masih bisa mengakalinya dengan perizinan dari luar Jakarta yang masih berpelat B. Taksi-taksi itu banyak beroperasi di Jakarta juga," kata Tulus.

Ia mengatakan, mengusut kasus perampokan penumpang taksi seharusnya lebih sederhana dibandingkan dengan kejahatan canggih lainnya. Ada korban yang bisa ditanyai tentang identitas pelaku dan kendaraan taksi yang digunakan. "Juga ada rekaman CCTV di ruang ATM yang bisa digunakan melacak perampok yang menarik uang," kata Tulus.

Korban Suparmini memang sudah mengecek sendiri ke bank dan dipastikan di ruang ATM yang digunakan untuk penarikan uang oleh perampok dilengkapi CCTV.

Penjabat Sementara Kepala Satuan Kejahatan dengan Tindak Kekerasan Komisaris Hendro Pandowo mengatakan hingga kini polisi masih mengusut kasus perampokan penumpang taksi ini.

http://www.kompas.com/ver1/Metropolitan/0612/24/053122.htm

Friday, May 05, 2006

Pengalaman menyebalkan dengan Garuda Insya Allah

Keluarga Jser,

Tadi malam saya baru saja kembali dari perjalanan ibadah Umroh, bersama dengan rombongan Maktour. Untuk penerbangannya sendiri, Maktour menggunakanGaruda. Pada saat saya mendaftarkan diri saya, sudah menanyakan pada Maktour, apa bisa penerbangan diganti dengan Airlines lain, karena masih kuat di ingatan saya, komentar-komentar yang kurang menyenangkan dari teman2 tentang servis dari Garuda. Seharusnya keberangkatan saya, pada tgl 24 April lalu itu jam 14.10 dari Jakarta, akhirnya setelah di tunda beberapa kali, berangkat juga akhirnya dengan tujuan Jeddah, jam 22.00. Karena penundaan yang berulang-ulang ini , melahirkan satu nama baru, yaitu Garuda Insya Allah. Masalah penundaan jam keberangkatan ini, memang sudah menjadi kebiasaan sepertinya di GIA ini, begitu pula yang terjadi pada saat kepulangan kami, yang seharusnya berangkat jam 20.00 ditunda menjadi berangkat jam 03.10 dan ditunda lagi menjadi 04.00. Masalah penundaan ini tidak menjadi puncak kekesalan kami, karena dari pihak Maktour menyediakan fasilitas yang memuaskan bagi kami para jemaah. Yang paling menyedihkan dan mengesalkan adalah sikap para pramugari, yang sangat tidak professional

Pada saat perjalanan kembali ke tanah air, saya masuk ke toilet, pemandangan yang terlihat di dalamnya adalah, tissue-tissue yang bertebaran dan bau pesing yang amat sangat, padahal saya masuk ke dalam toilet ini, tidak lama dari lepas landas lho. Lalu saya menegur salah seorang pramugari, Mbak, kok toiletnya berantakan dan pesing sekali ya. Agak diberesin dong, mbak. Jawabnya, Waduh gak tau tuh bu, Udah dari sononya begitu. Haaaaah? Sayaterkejut sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Terkejut dengan jawaban yang pada tempatnya, dan penggunaan bahasa yang jauh dari sepantasnya. Saya pikir, percuma juga saya berpanjang lebar ngomel dengan pramugari yang attitudenya seperti itu, yang ada hasilnya, mungkin malah bikin tambah sakit kepala, dan ngelus dada. Kesian sekali maskapai penerbangan kita ini.

Cerita yang bisa geleng-geleng kepala ini, tidak berhenti disitu saja. Tante saya, yang duduk disebelah saya, memesan kopi, datanglah kopi, creamer dan gula, beserta 1 sendok plastik. Belum selesai, tante saya mengaduk kopinya, pramugarinya meminta kembali sendok plastik tersebut, katanya sendok cumas atu dan mau digunakan di tempat lain. Ammmmpuuuunnnnn. Tidak berapa lama,pada saat makan siang dibagikan, disediakanlah 1 butter roll, dengan ditemani butter. Tante saya menanyakan pada pramugari, untuk minta diambilkan strawberry jam, jawaban si pramugari, waduh, mesti dicari dulu, agak repot nih. Memang sih biasanya strawberry jam itu disediakan pada saat breakfast bukan pada saat lunch spt itu, tapi jawaban pramugari tersebutamat sangat tak pantas.

Rasa geram, kesal, sedih dan malu bercampur satu. Di era sekarang ini, dimanapersaingan amat ketat, kok ya, bisa-bisanya attiude pramugari itu seperti itu. Attitude seperti itu saja untuk penerbangan domestik sudah saya rasakan kurang pantas, tapi ini terjadi pada penerbangan internasional. Aduh,mirisnya. Untuk layanan dari Maktour sendiri pantas diberi acungan jempol. Hotel, makanan dan servis dari para staff sangatlah memuaskan.

Untuk Maktour, sayatak segan-segan merekomendasikannya pad Keluarga JSer.

Salam,
Indira Budhyarto
(yang masih geleng-geleng kepala)