Monday, December 25, 2006

Perampokan di Taksi, Teror yang Berkepanjangan...

Suparmini (36), karyawati, warga Matraman, Jakarta Timur, yang menjadi korban perampokan di taksi hingga kini masih shock karena kejadian Kamis lalu. Tak disangka, malam itu taksi yang merupakan jenis moda transportasi darat paling aman itu berubah menjadi sumber teror dalam hidupnya.

Meski sudah melaporkan kejadian itu ke Kepolisian Daerah Metro Jaya dan sudah tiga malam tidur di rumahnya yang aman, Suparmini masih takut.

Walaupun sudah sampai di rumahnya sendiri, di kelurahannya sendiri, dan pastinya punya aparat terdekat, seperti Ketua RT dan Ketua RW, ia masih merasa dikejar-kejar. Bahkan ia takut sewaktu-waktu perampok menyatroni rumahnya.

"Saya sebenarnya tak pernah sembarangan menyetop taksi, selalu saya pastikan taksi yang saya gunakan taksi kepercayaan saya," katanya. Namun, malam itu, pukul 19.30, di depan Mal Ambasador Kuningan, turun hujan lebat. Asap knalpot menambah pemandangan berkabut, ditambah kacamata Suparmini juga berembun.

Taksi warna biru yang mirip taksi kepercayaannya itu berinisial Sep. Perasaan tak enaknya ternyata menjadi kenyataan.

Ketika taksi meluncur ke Hotel Ritz Carlton melewati Hotel JW Marriott, sopir taksi tiba-tiba berhenti dan memasukkan dua laki-laki ke taksi. Kedua orang tersebut langsung mengintimidasi dirinya.

Saat itu, ia hanya sempat berpikir bagaimana agar selamat dan tidak mati konyol. Maka, telepon seluler T610, cincin dua gram, dan dua kartu ATM beserta nomor PIN diberikan kepada perampok. "Kalau nomor PIN ini salah, saya bisa membunuh Ibu," kata korban menirukan pelaku.

Perampok kemudian berhenti di Tanah Abang dan menyerahkan hasil rampokan kepada kawannya yang sudah menunggu. Malam itu tabungan di BCA dan Mandiri senilai Rp 6,7 juta dikuras perampok. Korban sempat diajak berputar-putar kota selama dua jam hingga akhirnya diturunkan di Kampung Melayu.

Kesembilan kali

Peristiwa perampokan di taksi tersebut adalah kasus kesembilan kalinya selama tahun 2006 yang menimpa perempuan saat menggunakan jasa taksi. Kasus itu juga merupakan pengulangan peristiwa yang menimpa seorang karyawati yang bekerja di Jalan Jenderal Sudirman, kerugian mencapai Rp 47 juta. Skenarionya sama, sopir menjalankan taksinya dan tak lama kemudian masuk dua laki-laki, merampas semua harta korban berikut kartu ATM dan nomor PIN.

Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, mengatakan kasus perampokan penumpang taksi terus berulang karena dua hal. Pertama, karena polisi kurang serius menangani setiap kasus menyangkut armada taksi besar. Kedua, karena iklim kompetisi dalam bisnis pertaksian yang sudah tidak sehat.

"Kepolisian selalu lambat dalam mengungkap pelaku perampokan penumpang taksi. Aparat keamanan gagal memberi rasa aman kepada warga kota," kata Tulus. Konsumen menganggap moda transportasi darat paling aman adalah taksi, tapi tetap saja ada kejahatan di taksi dan cenderung tak ada upaya bersama dari semua pihak untuk bersama-sama memeranginya.

"Saya pernah mendapat info mengapa setiap ada kasus perampokan taksi selalu tak ditangani serius. Ada dugaan kongkalikong perusahaan taksi yang digunakan untuk perampokan sehingga banyak kasus perampokan yang sepertinya dipetieskan," kata Tulus.

Ia juga menyebut kompetisi antarperusahaan taksi kini sudah tidak kondusif lagi. Jumlah armada taksi saat ini mencapai 30.000-35.000 unit, persaingan ketat dengan rasio supply dan demand tak seimbang membuat banyak taksi menganggur.

"Sejak 1999 sebenarnya sudah oversupply. Sekarang perizinan sudah ditutup, tapi pengusaha taksi masih bisa mengakalinya dengan perizinan dari luar Jakarta yang masih berpelat B. Taksi-taksi itu banyak beroperasi di Jakarta juga," kata Tulus.

Ia mengatakan, mengusut kasus perampokan penumpang taksi seharusnya lebih sederhana dibandingkan dengan kejahatan canggih lainnya. Ada korban yang bisa ditanyai tentang identitas pelaku dan kendaraan taksi yang digunakan. "Juga ada rekaman CCTV di ruang ATM yang bisa digunakan melacak perampok yang menarik uang," kata Tulus.

Korban Suparmini memang sudah mengecek sendiri ke bank dan dipastikan di ruang ATM yang digunakan untuk penarikan uang oleh perampok dilengkapi CCTV.

Penjabat Sementara Kepala Satuan Kejahatan dengan Tindak Kekerasan Komisaris Hendro Pandowo mengatakan hingga kini polisi masih mengusut kasus perampokan penumpang taksi ini.

http://www.kompas.com/ver1/Metropolitan/0612/24/053122.htm

No comments: